Jumat, 06 Desember 2013

The Old Man and The Sea oleh Ernest Hemingway



The Old Man and The Sea oleh Ernest Hemingway

Judul                :    The Old Man and The Sea
Penulis             :     Ernest Hemingway
Penerbit           :     Serambi & Selasar
Penerjemah      :    Yuni Kristianingsih (Serambi),
                             Dian Vita Ellyati (Selasar)
ISBN               :    978-979-024-147-3 (Serambi),
                             979-259-351-9 (Selasar)

Tidak perlu diragukan lagi kebesaran nama dari seorang  Ernest Hemingway, The Old Man and The Sea adalah salah satu karya monumentalnya. Berkisah tentang perjuangan hidup seorang nelayan tua di tengah lautan yang bertarung melawan seekor ikan marlin besar buruannya. Ini adalah sebuah kisah tentang optimisme dan kegigihan dalam memperjuangkan hidup. Filosofi hidup Santiago, si nelayan tua yang sederhana tapi sesunggguhnya mumpuni, bagaimana dalam kesederhanaan persfektif tentang kehidupan, dia begitu menghormati hidup itu sendiri, menghormati lautan dan juga menghormati buruannya (hal. 59, terbitan Selaras) yang bagi saya terasa sangat kontras dengan kisah akhir hidup sang penulisnya (red. Ernest Hemingway). Ditengah kesialan yang telah mengikatnya untuk waktu yang begitu lama, dia memilih untuk tidak menyerah dan terus berusaha, bahkan ketika nasib sial itu ternyata hanya menggodanya dengan meniupkan aroma keberhasilan, padahal sesungguhnya dia masih mendekap erat sang nelayan tua.


Buku pertama The Oldman and The Sea pertama yang saya baca dalah hasil terjemahan dari Yuni Kristianingsih terbitan Serambi, lalu yang kedua adalah hasil terjemahan Dian Vita Alliyanti terbitan Selaras. Sebagaimana sebuah novel terjemahan, karya-karya besar para penulis sungguh sangat tergantung pada kemampuan dan gaya penerjemahnya, tidak jarang saya membaca karya kelasik yang masyur tapi berakhir dengan kekecewaan hanya karena gaya dari si penerjemah. Khusus buku  ini, karena gaya bahasa Ernest Hemingway yang sederhana dan dalam kalimat-kalimat yang pendek, maka hasil terjemahan dari kedua buku ini relatif serupa, hanya ada beberapa bagian yang sedikit terasa lain akibat perbedaan gaya dari penerjemah. Pada akhirnya mana terjemahan yang lebih baik atau lebih buruk  kembali tergantung dari selera pembaca.

Terbitan Serambi, hal. 133
Dia menarik selimut menutupi bahu, punggung dan kakinya, lalu jatuh tertidur dalam keadaan telungkup di atas lembaran-lembaran koran dengan tangan terjulur lurus dari sisi badannya dan telapak-telapak tangannya menghadap ke atas.

Terbitan Selasar, hal. 118
Ia menarik selimut hingga bahunya dan kemudian pada bahunya dan lengannya dan ia tertidur dengan wajah menghadap bawah pada kertas koran dengan lengannya lurus dan telapak tangan menghadap atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar