Minggu, 05 Januari 2014

Animal Farm oleh George Orwell



Judul                 : Animal Farm
Penulis              : George Orwell
Penerjemah       : J. Fransisca
Penerbit            : Fresh Book
207 halaman,




 
Sudah sejak tujuh tahun lalu saya memiliki buku ini, entah berapa kali saya mengulang membacanya,  random hanya pada sebagian tertentu  saja, atau  dari awal sampai akhir lagi. Saya suka mulai dari jalan cerita, gaya bertutur maupun penokohannya. Sederhana, tapi memiliki kedalaman arti. Oleh karena itu, awal tahun ini saya kembali membaca dan menulis sudut pandang saya akan buku ini.

Bagi saya, “Animal Farm” lebih menyerupai parodi kehidupan manusia daripada sekedar sebuah fabel. Parodi saat kehidupan berputar dan sejarah berulang, dimana  rezim bangkit dan runtuh setiap harinya. 

Dengan sapaan kamred, dengan slogan-slogan propaganda, entah memang itu tujuan George Orwell atau tidak, pikiran saya langsung terasosiasi dengan penggulingan Ciang kaisek dan terbentuknya RRC atau pada revolusi Bolshevik, atau bahkan mungkin bisa dimiripkan dengan sejarah bangsa ini. Pengultusan sang pemimpin, pemberian penghargaan pada dirinya sendiri sebagai sang pemimpin dengan bintang-bintang kehormatan, pemutarbalikan fakta, pengkaburan sejarah,  mengingatkan saya pada kisah yang melibatkan sosok  Mao atau Stalin, atau bahkan beberapa tokoh sejarah di negeri ini, atau memang dimanapun sejarah selalu serupa, suram dan menyesakan.

Selalu ada titik balik setelah penindasan yang begitu lama, saat secara serentak rakyat berontak untuk menggulingkan tiran. Sekali lagi, Animal farm adalah sebuah parodi, pertanian Manor dan tuan Jones adalah simbol-simbol tiran. Diawali dari sebuah visi si Mayor tua, babi hutan dalam buku ini. Lalu visi itu manjadi api yang menyulut perubahan, berkembang menjadi sebuah pencerahan dan pergerakan untuk menentukan nasibnya sendiri. Tapi kemerdekaan meminta tebusan dengan harga yang mahal, sebagaimana perubahan rezim dimanapun didunia ini, revolusi selalu memakan anak-anaknya sendiri, dan saat semua terwujud, kemerdekaan itu tidak semanis yang dibayangkan. Justru penindasan kembali terjadi dan tiran baru telah lahir.

Mungkin kita melihat semangat si Mayor tua dalam diri tokoh-tokoh dunia yang dengan visinya mengubah arah sejarah, dan lebih banyak lagi yang menyerupai Napoleon dan Snowball sebagai tokoh dan tumbal revolusi. Sisanya adalah kita, domba-domba penurut, Boxer kuda yang naïf atau Benjamin si keledai yang skeptis.

Mungkin penindasan tidak akan pernah selesai, mengikuti roda jaman, carut marut politik dengan babi-babi rakusnya yang korup akan selalu ada, memikirkannya saja meletihkan, tapi tak perlu kita jengah, jalani saja peran kita sebaik-baiknya, menjadi diri kita yang sesungguhnya, “Régime rise and fall every day, why should we worry.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar