Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2016

Vodka, Cinta dan Bunga; Rusia Kontemporer, oleh M. Aji Surya dan Khoirul Rosyad



Judul        : Vodka, Cinta dan Bunga; Rusia Kontemporer
Penulis     : M. Aji Surya dan Khoirul Rosyadi
Penerbit    :  PT. JePe Press Media Utama
ISBN        : 978 602 8567 83 1
xvi + 254 hlm.

Buku ini bukanlah buku travel, jika anda berharap memperoleh informasi, terutama tempat wisata atau tempat yang anda ingin kunjungi sebelum ke Rusia, tentu anda akan kecewa. Buku ini juga bukan mengulas budaya Rusia. Buku ini adalah perspektif penulis terhadap Rusia selama mereka tinggal disana. Penuh opini yang subjektif dan (menurut saya) terlalu stereotype, orang rusia tuh begini, orang rusia tuh begitu, seringkali membandingkan Rusia kini dengan imaji Rusia tempo dulu yang sepertinya sudah terpatri di kepala penulis.  Tentu akan sulit melihat sesuatu secara objektif jika menempatkan diri kita sendiri di tengah-tengah sebagai acuan ideal sementara yang lain berada di sekelilingnya menjadi terlihat terlalu kiri, terlalu kanan, atau terlalu yang lainnya. Tentu niat baik dan kesungguhan penulis meluangkan waktu untuk menulis buku ini di sela kesibukannya perlu mendapat apresiasi.

Selasa, 16 Desember 2014

Travel with Heart, perjalanan menyusuri sudut-sudut dunia. Oleh Mary Sasmiro



Judul : Travel with Heart, perjalanan menyusuri sudut-sudut dunia.
Penulis : Mary Sasmiro
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978 979 22 9349 4

Sebelumnya saya pernah mengulas buku Mary Sasmiro ”Explore, Eat, Enjoy” yang saya kurang tanggapi dengan positif, buku yang memang merupakan koleksi milik istri saya dan ternyata juga memiliki koleksi  karya Mary Sasmiro lainnya. Ternyata lagi dia adalah penggemar tulisan Mary Sasmiro.

Buku ini telah terbit sebelum Explor, Eat, Enjoy, sedari awal memang mengambil film sebagai referensi adalah gaya khas Mary Sasmiro. Mungkin dulu saya setengah bersungut saat dia mulai membandingkan tempat yang dikunjunginya dengan film yang pernah dia tonton, sekarang saya lebih bisa mentolerir, saya hargai kejujurannya untuk menjadi diri sendiri dengan tulus saat menulis.

Dalam buku ini  Mary mengajak berkeliling eropa, asia timur dan di dalam negeri sendiri (Indonesia), melihat keunikan setiap kota dari sudut pandangnya, dengan lamunan-lamunannya yang tak terkontrol dan sering datang tiba-tiba dalam momen-momen tertentu, tentu saja yang berhubungan dengan sebuah adegan film.

Tanpa ragu Mary meluapkan emosinya saat berada di tempat-tempat yang berkesan khusus baginya, sangat ekspresif dan jujur, kadang bahkan dia sendiri melihatnya sebagai tingkah norak, dan dia tidak keberatan dianggap  norak. Itulah yang merubah perspektif saya menjadi lebih respek akan tulisannya. Mungkin disaat yang sama saya malah akan lebih berlaku norak lagi atau bahkan kampungan. Untuk sementara ini, karena belum bisa bertravel ria seperti Mary, saya hanya bisa nyengir saat membaca polahnya.

Di sampul belakang buku tertulis “Mary Sasmiro mengajak pembaca menikmati perjalanan tak hanya dengan mata, namun dengan hati”, maka saya tambahkan, Mary juga mengajak menikmati perjalanan dengan imajinasi.

Senin, 20 Oktober 2014

Explore, Eat, Enjoy oleh Mary Sasmiro



Judul           :Explore, Eat, Enjoy
Penulis        : Mary Sasmiro
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
ISBN         : 978 602 03 0640 7
156 Hlm.

Buku ini merupakan koleksi istri saya, dan genre icip-icip adalah salah satu favoritnya. Bolak-balik dalam dan luar negeri menjelajah kota-kota dunia, mulai dari Boston, Vancouver, Pekan Baru, London, Kupang, Turki, Belitar, Broklyn, Macau, Venesia, Portland hingga Napa Vally di San Fransisco Mary Sasmiro menjelajah rasa. Perjalanan yang tidak hanya melihat dan mengalami, tapi indra perasa ikut menjelajah, berpetualang dalam budaya kuliner.

Mungkin tidak semua pembaca (khususnya saya) dapat dengan bebas untuk mencicipi keeksotisan makanan suatu tempat, Blood puding, Se’i dan Rebis dari kupang dan juga wine harus dicoret dari daftar. Cukuplah Mary Sasmiro mewakili mencicip semua makanan itu.
Dalam penuturannya penulis begitu gemarnya membandingkan tempat yang dikunjunginya dengan film-film yang pernah dia tonton, sambil membaca saya jadi berharap-harap, jangan…, jangan bicara soal film James Bond lagi. Dan.. Tuh kan ngomongin film lagi.

Satu yang saya hargai, penulis konsisten menyampaikan informasi travel tips/info juga resep di akhir setiap bab walau kadang terlalu memaksa untuk dihadirkan, seperti di akhir bab tentang Voodoo Doughnut, resep untuk toping donat!! Serious?

Dari cara mengulas, mendeskripsikan dan diksi yang dipilih penulis, buku ini memang jelas bukan favorit saya, buat saya, Yang membuat saya suka adalah saat membaca sebuah ulasan travel saya jadi merasa ikut menjelajah, terbayangkan dan penasaran, saying buku ini tidak mampu melakukannya. Tapi cara bertutur penulis yang santai dan ringan lumayan bisa saya nikmati.

Rabu, 04 Juni 2014

Life traveler; Suatu ketika di sebuah perjalanan oleh Windy Ariestanty



Judul                     : Life traveler; Suatu ketika di sebuah perjalanan
Penulis                  : Windy Ariestanty
Penerbit                : GagasMedia
ISBN13               : 979 780 465 8
viii + 411 hlm; 13 x 20 cm

Buku ini merupakan kompilasi beberapa perjalanan penulis termasuk bonus dua trip dari sahabatnya yang  ditambahkan diakhir buku, mungkin untuk sebuah penghormatan, penghargaan tali persahabatan, tapi bagi saya, no offense,  hanya jadi spoiler saja.

Dimulai dari yang paling dasar dari sebuah perjalanan, bab pertama dibuka dengan perihal berkemas. Buku ini adalah muasal saya tahu tentang spaces maker (thx to Windy), setelah selesai membaca, saya langsung browsing dan akhirnya membeli, menjadikanya senjata andalan dalam perjalanan-perjalanan saya.

Pada bab selanjutnya penulis mengajak kita berpetualang mengitari Indochina dan beberapa kota di eropa (Frankfurt, Heidelberg, Prague, Swiss, Paris dan Amsterdam),  juga terselip pengalaman penulis selama tingggal di Cherokee, North Carolina dan sepenggal kisah di bandara udara O’Hare, Chicago. Untuk trip Indochina, Jakarta-Malaysia-Vietnam-Kamboja-Thailand-Jakarta. Entah kenapa, untuk negeri jiran Malaysia, selain pelayanan buruk di bandara keberangkatan sepertinya tak ada kisah yang layak  untuk diceritakan.

Di luar kejamakan buku travel  lainnya, gaya bahasa Windy lebih puitis, mungkin karena latar belakang penulis yang seorang editor buku-buku novel (kalau saya tidak keliru) membuatnya berbeda, bukan berarti sesuatu yang buruk, tapi justru memberi rasa baru dan memperkaya genre buku ini.  Penulis mampu melihat jauh lebih dalam pada sebuah peristiwa, bahkan dari sekedar kegiatan packing, Windy menyempatkan diri untuk menyusuri sisi filosofinya. Dilain kesempatan ia pun memaknai kembali arti dari kata “rumah”.  Dengan buku ini sepertinya Windy tidak hanya ingin mengajak kita berpetualang imajinatif keliling Indochina atau eropa, tapi juga mengajak pembaca untuk menempuh sebuah perjalanan bathin, sebuah perjalanan berkontempalasi.